Alhamdulillahi was salaatu was salaam 'ala Rasulillah.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Begini teman, kalian pasti pernah membaca dan/atau mendengar hadits Rasulullah SAW tentang permisalan teman yang baik dan teman yang buruk kan? Itu loh, yang maksudnya kalau teman kalian baik maka kalian akan dapat kebaikan darinya, kalau teman kalian buruk ya otomatis kalian dapat keburukan darinya. Tak jarang kita menyangkal kenyataan ini (ya, ke-nya-ta-an) bahwa teman kita punya pengaruh yang besar pada diri kita. Tak jarang kita terperangkap bersama orang-orang yang buruk karena merasa kita sudah memilih teman yang baik, merasa pilihan kita sudah benar, merasa "aku orang baik kok, walaupun teman-temanku ini sifatnya jelek, aku takkan terpengaruh", atau bahkan kita sudah jadi bagian dari teman-teman yang jelek itu?!
Gini lho ya, kamu punya adik? Punya keponakan?
Kali ini aku mau menjelaskan pengalaman sekaligus pelajaran yang kuambil dari pengalamanku itu tentang besarnya pengaruh teman pergaulan terhadap diri kita. Kenapa aku mau membahas ini adalah karena ini bukan hanya menyangkut tentang "kita" yang punya diri, tapi ini menyangkut orang-orang tersayangmu~
*
Aku punya teman, dia suka bicara, susah diatur, dan aku pernah melihatnya mengamuk kepada orangtuanya. Sebut saja Teman 1. Lalu ada Teman 2: suka berbicara kasar, pendendam, mudah kesal. Dan Teman 3: juga suka mengatakan hal-hal yang buruk, dan ia tak ragu untuk menceritakan hal yang tak ia suka mengenai orang tuanya. Bukan berarti ketiga orang temanku ini tidak punya sifat baik, hanya saja aku ingin menekankan tentang bagaimana pengaruh seorang (atau tiga orang) teman yang punya sifat buruk terhadap diriku. Dan hal buruk itu lebih cepat menjangkit daripada hal baik.
Sifat buruk ketiga orang teman ini berakumulasi dan mengendap di alam bawah sadarku, karena aku sering berada di sekitar mereka dan 'menyaksikan' sifat-sifat buruk mereka dengan seluruh indraku. Setiap hari bergaul dengan mereka seakan-akan memupuk sifat-sifat buruk itu di dalam diriku. Sampai suatu ketika, ada sebuah peristiwa yang memicu amarahku dan aku mengeluarkan sebuah tindakan buruk yang akhirnya kusesali. Tindakanku itu sangat buruk bagi seorang pelajar sepertiku. Seorang pelajar yang sudah diajari pendidikan agama.
Sesaat sesudah ledakan amarahku itu, aku langsung menyadari perbuatanku dan aku menyesalinya. Aku memohon ampunan Allah dan memarahi diriku sendiri. Aku mewanti-wanti diriku agar hal serupa tak terulang lagi. Tapi ternyata masalahnya tidak hanya sampai di situ. Ternyata itu adalah permulaan dari masalah selanjutnya.
Beberapa waktu kemudian, adikku menunjukkan amarah yang sama. Ia bahkan sampai mengamuk. Aku dan orangtuaku mencoba menenangkannya, tapi ia sangat marah. Dan ia melakukan sesuatu yang lebih besar dari tindakanku sebelumnya. Harusnya orangtuaku kesal, karena aku juga kesal dengan tindakannya itu. Aku bertanya-tanya, mengapa ia jadi begini?
Lalu gelombang kesadaran menyapaku. Uh-oh. Aku teringat akan tindakanku beberapa hari sebelumnya. Aku mengaitkan tindakan adikku dengan tindakanku waktu itu, yang ternyata tak berbeda jauh. Hanya saja apa yang dilakukannya lebih buruk dari apa yang aku lakukan, karena mungkin ia juga mendapat pengaruh dari teman-temannya di luar lalu ia melihat tindakanku dan semua yang dilihatnya itu terakumulasi dalam alam bawah sadarnya. Alasan ia melakukan hal tindakan buruk itu, sebagiannya adalah karena salahku. WOW.
Itu baru namanya masalah. Sebuah kesalahan, yang akan (harus) kupertanggungjawabkan di pengadilan Allah nanti.
Kenapa repot-repot? Kan dia masih kecil?
Justru karena ia masih kecil, jadi masalah! Ia belum bisa memikirkan mana yang benar dan mana yang salah. Selama ia terus-menerus mendapatkan 'pupuk' dari luar, ia akan tumbuh dengan sifat-sifat itu, yang diyakininya adalah tindakan yang tepat karena ia terbiasa melakukannya. Sifat-sifat buruk itu lama kelamaan akan menjadi kebiasaannya. Dan kebiasaan itu susah diubah, kan?
*
Kalau kamu menyadari akan hal-hal buruk itu, kenapa tetap kamu lakukan walaupun kamu sudah tahu hal itu buruk? Itu kan jadi salahmu, bukan salah teman-temanmu. Hidup adalah pilihan, harusnya kamu memilih tindakan yang tepat dalam mengatasi amarahmu, bukannya tindakan yang salah. CUKUP. Hidup memang pilihan. Karena itu, kusarankan kalian semua memilih meninggalkan teman yang punya perilaku buruk. Teman-teman kalian mungkin tidak mempengaruhi kalian untuk memakai narkoba, mungkin juga tidak untuk mencuri. Tapi dengan berteman dengan orang yang buruk, artinya kalian 'mengizinkan' mereka untuk mempengaruhi kalian dengan perilaku mereka. Percayalah, kalian sadari atau tidak, ketika kalian menghabiskan banyak waktu dengan orang yang punya kebiasaan buruk, kalian cenderung menoleransi kebiasaan buruk mereka.
Yang ingin kusampaikan adalah, jadikanlah orang-orang yang baik sebagai teman karibmu sehingga kamu akan tetap baik, sehingga adik-adikmu dan ponakan-ponakanmu yang kecil-kecil tidak mencontoh yang buruk dari dirimu. Kasihanilah mereka dan masa depan mereka. Jangan sampai masa depan mereka suram karena kelalaian kita. Ingat ya, masa depan seseorang itu yang di kehidupan selanjutnya. :|
Cut negative people out of your and your beloved's precious life!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar